Sapi Gemuk, Duit Numpuk

Untuk mendapatkan laba yang optimal, peternak skala besar atau kecil perlu mengusahakan proses penggemukan secara efektif dan efisien. Sejumlah perusahaan pakan, im buhan pakan, dan obat ternak menawarkan produk mulai dari saat bakalan sapi datang ke kandang hingga pembentukan karkas yang prima. Penggemukan bisa dilakukan dengan bahan baku sapi bakalan impor, bisa pula bakalan lokal. Sebelum dipacu pertumbuhannya, bakalan impor perlu dipulihkan dulu kondisinya yang turun bobot ataupun stres akibat perjalanan panjangnya da ri Australia dengan antistres. Bila sudah fit, sapi akan responsif terhadap perlakuan pakan maupun aditif. Menurut Suwadi, Regional Manager PT Medion,

“Penggemukan sapi yang efisien hendaknya dimulai ketika laju pertumbuhan sapi sangat tinggi, yaitu umur 1-1,5 tahun dan dijual ketika sapi su dah mencapai puncak pertumbuhan, yaitu umur 2-2,5 tahun. Karena itu, peternak harus memelihara bakalan dengan umur yang tepat dan menjualnya pada umur yang tepat pula.” Optimalisasi Rumen PT Trouw Nutrition Indonesia selaku perusahaan im buhan pakan melihat rumen sebagai pabrik nutrisi bagi sang sapi. “Kalau mau ngomongin ADG (pertambah an bobot badan harian), kita lihat ru mennya. Rumen mengandung bakteri, protozoa, dan fungi. Pertama, rumen itu sendiri sangat penting pe rannya, kedua, mikroba di dalam ru men juga sangat penting. Jadi, praktiknya orang

berusaha mengoptimumkan fungsi rumen. Kalau fungsi r umennya bagus, otomatis dia akan menyuplai protein. Mikroba kan mampu mensintesis protein dari NPN (non-protein nitrogen) dan akan diserap menjadi sumber protein untuk sapinya,” tutur Supangat, Product Manager Solution Ingredients. Susanto, Product Manager (Ruminant), menambahkan, pihaknya memiliki produk bernama XPC untuk mengoptimalkan rumen. Produk prebiotik ini meningkatkan total bakteri di dalam

rumen. Khususnya bakteri untuk mencerna serat (fiber digesting bacteria) dan meningkatkan populasi bakteri yang memanfaatkan laktat (lactat utilizing bacteria). Bakteri pencerna fiber penting apalagi bagi peternak nonfeedlot yang biasa memberi pakan hijauan. Sedangkan bakteri pengguna laktat menjaga rumen pada

kondisi normal, pH 6-6,8. Bila laktat berlebihan, pH akan turun. “Kalau pH sampai di bawah 5,6 itu namanya kondisi asidosis dan dampaknya bisa mengakibatkan kemati an. Jika kita bisa meningkatkan bakteri pengguna laktat itu berarti risiko terjadinya asidosis kecil,” paparnya. Melihat kepentingan pelanggan yang berbedabeda, Trouw Nutrition Indonesia menawarkan konsep Max Care: A (All round), B (Boost), dan C (Comfort). “Kalau peternak menginginkan harga murah, standar saja ya, pakai A. Kalau mau performa maksimal ADG (average daily gain-pertambahan bobot badan harian) bagus, kualitas karkas bagus pakai yang B.

Dan kalau pengin mereduksi pemakaian antibiotic growth promotor (AGP) dan suplemen tambahan ya gunakan C,” terang Susanto. Penggunaan XPC cukup mudah, dicampurkan ke pakan dengan dosis 15 g/ekor/hari saat baru datang sampai dua minggu. Selanjutnya dosis 7 g/ekor/hari. Mengutip hasil penelitian pada 1993 – 2009, Supangat mengungkapkan, penggunaan XPC 7 g menghasilkan ADG 76 g dan me ningkatkan efisiensi pakan (feed over gain) 80 g. Jadi, hitungannya sangat murah. “Keluar Rp500, potensi menambah 0,076 x Rp45.000=Rp3.420. ROI (return of investment)-nya 7.

Tinggal strategi, spend more to get more. Ini pilihan untuk feedlot atau peternak,” tandas Supangat. Pakan Berkualitas Sementara itu PT Cargill Indonesia yang produsen pakan menawarkan konsentrat yang sesuai dengan kebutuhan sapi. Menurut John M. Ahmad, pakan yang baik adalah pakan yang mampu mengoptimalkan potensi genetik ternak. Dan tentu harapannya total biaya menjadi lebih efisien. “Teknologi pakan pasti ada biaya. Tapi kalau itu memberikan output yang bagus, kan nggak masalah. Dari sisi manajemen, kita berharap peternak lebih mudah memberikan pakan kepada sapinya,” ujar John kepada AGRINA.

Untuk mencapai target ADG minimal 1,2 kg/hari, tentu sulit bila hanya mengandalkan hijau dan limbah pertanian saja. Karena itu pihaknya mensosialisasikan pemanfaatan pakan konsentrat kepada peternak. “Cukup sulit mengubah kebiasaan peternak dari yang memberikan 20 kg berjenis pakan ke pakan konsentrat seberat 6 kg rata-rata per ekor, tambah hijauan kering, tidak perlu combor, minum di pisah. Tapi setelah satu tahun, peternak bisa menerima.

Testimoninya positif. Mereka bilang dulunya cuma punya tiga sapi. Setelah setahun punya lima sapi karena kerjanya lebih ringan. Hijauan juga tidak perlu banyak-banyak disediakan. Secara ekonomi juga lebih hemat. ADG pun terpenuhi,” terang Sales Manager Cargill Feed & Nutrition itu. Pengalaman peternak di lapangan, lanjut John, target ADG 1,2 kg/hari sebelumnya dicapai dalam 6 bulan. Setelah pola pakannya beralih ke konsentrat, mereka bisa capai dalam waktu sekitar 4 bulan.

Obat Cacing Percuma saja sapi diberi pakan yang baik bila cacing dibiarkan hidup dalam tubuhnya. Mengutip li teratur, Suwadi mengungkapkan, “Cacingan dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan berat badan per hari sebanyak 40% pada sapi potong.” Padahal, biaya penggunaan obat cacing tidak sebanding dengan nilai tambah yang akan diperoleh saat produk tersebut digunakan. Hitungan dia, penggemukan sapi PO selama 150 hari dengan perlakuan obat cacing dua kali yang biayanya hanya Rp12.700 (2,5 bolus Wormzol-B) menghasilkan ADG 120 kg (0,8 kg per hari). Sedangkan yang tanpa obat cacing, ADG-nya hanya 72 kg (0,48 kg per hari). “Jadi, biaya obat cacing sebesar Rp12.700, dapat menyelamatkan ker ugian peternak sebesar Rp515 ribu selama periode penggemukan dengan asumsi harga jual Rp30 ribu/kg bobot hidup,” katanya. Solusi PT Kalbe Farma lain lagi.

Seperti Medion, Kalbe Farma juga memproduksi obat cacing, namanya Lagantor BSA. “Saat awal datang ke kandang sapi kita kasih antistres Lagantor Elecsap (elektrolit sapi) selama 3-7 hari untuk memulihkan napsu makan. Sistem itu tergantung feedlot-nya. Kalau tidak punya kandang jepit, pemberi an obat cacingnya setelah elektrolit. Tapi kalau punya kandang jepit, saat sapi datang lalu ditimbang langsung dicekokkan,” jelas

Florentinus Sur yawan, Product Manager, Animal Health Division. Selain obat cacing dan antistres, lanjut Suryawan, sapi diberi La gantor Premix yang diberikan dalam tiga tahap sesuai periode penggemukan. Yang starter mengandung virginamisin, grower dan finis her bisa dipilih yang mengandung monensin atau virginamisin bergantian. Di samping berbagai produk pendukung proses penggemukan, peternak juga perlu mencapai skala ekonomis agar usahanya tak lagi sebagai sambilan.

Kalkulasi Suwadi, paling tidak peternak memelihara 13 ekor dengan keuntungan Rp182 ribu per bulan sehingga penghasilannya minimal Rp2,275 juta setara UMR Kota Bandung. Anda tertarik menumpuk duit dari sapi potong dengan solusi-solusi tersebut?

Otak-Atik Harga Daging Sapi

Lebaran dan Idul Adha menjadi mo – men yang ditunggu-tunggu peternak untuk memanen laba. “Men jelang lebaran, permintaan da ging sapi meningkat dua hingga tiga kali lipat dari konsumsi normal karena aspek tradisi dan budaya pangan kita. Sementara saat Idul Adha, permintaan sapi jantan untuk kurban menambah peningkatan permintaan di luar kebutuhan konsumsi daging normal karena aspek ibadah agama. Sehingga harga sapi kurban bisa tinggi karena tidak menggunakan parameter komersial seperti sapi potong biasa untuk kebutuhan produksi daging,” ungkap Dayan Antoni PA, Ketua Gabungan Perusahaan Pembiakan Sapi Potong Indonesia (GAPPSI). Namun Ramadan dan Lebaran 2016 bisa jadi bukan momen terbaik ba – gi peternak untuk me re – guk keuntungan. Pa sal – nya, persapian

nasional diguncang masalah harga yang menurut sebagi – an kalangan kelewat liar karena ber tengger di atas Rp100 ribu hingga Rp140 ribu/kg. Sampaisampai Presiden Jokowi me minta harga daging sapi, bagaimana pun cara nya, harus Rp80 ribu/kg untuk konsumen. Sebenarnya kasus semacam ini pernah terjadi pa da 2013. Waktu itu Menteri Perdagangan Gita Wiryawan menetapkan harga referensi daging sa pi Rp76 ribu/kg. Padahal harga wajarnya Rp90 ribuan/kg. Lalu pemerintah mengimpor daging sapi beku, tetapi gagal meredam harga karena konsumen kurang meminati. Kali ini pun pemerintah lagi-lagi mengandalkan daging beku impor. Berhasilkah? Sampai naskah ini diturunkan, 1 Juli 2016, harga daging sapi segar menurut

pantauan infopangan.go.id di Jakarta, ma – sih nangkring di angka Rp110 ribu-Rp120 ribu/kg. Yang turun malah harga sapi di kandang peternak. Menurut Sarjono, Ketua Kelompok Ternak Limo – sin di Desa Astomulyo, Kec. Punggur, Lampung Tengah, dari Rp45 ribu – Rp46 ribu/kg sebelum Ramadan menjadi Rp42.500 – Rp43.000/kg bobot hidup pertengahan Juni. Mengapa demikian dan berapa sebenarnya harga daging yang masuk akal? Harga yang Rasional H. Asnawi, Ketua Bidang

Ekspor/Impor DPP Aso siasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) pada acara bertajuk “Rasionalitas Harga Daging Sapi” di Jakarta (1/6) mengatakan, harga tinggi menjadi indikator kebutuhan daging nasional belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Sapi-sapi yang dipotong untuk menghadapi Ramadan dan Le baran berasal dari importasi sapi Januari dan Fe bruari 2016. Hitungannya, harga pokok produksi (HPP) sapi tersebut Rp44.100/kg timbang hi – dup. Setelah dipotong, harga jual dari jagal ke pe – ngecer pedagang Rp87 ribu – Rp88 ribu/kg karkas. “Jadi, HPP kita

menjual daging berkisar Rp109 ribu – Rp111 ribu per kg daging. Selanjutnya kita menjual daging tersebut antara Rp105 ribu – Rp120 ribu kg. Keuntungan kotor kita antara Rp3.000 – Rp5.000/kg, termasuk di dalamnya untuk membayar retribusi dan biaya karyawan. Keuntungan yang sangat kecil. Dengan demikian harga yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp80 ribu daging sangat tidak rasional,” jelasnya. Dengan kalkulasi yang lebih detil (lihat tabel), Dayan mendapatkan HPP daging sapi murni (prosot) dari bakalan impor hampir Rp104 ribu dan daging sapi asal lokal Rp110 ribu per kg. Angka ini tentu saja belum memasukkan laba! Mengapa mahal? “Masalah sapi potong dan da – ging tidak sederhana. Kompleks, dilematis dan pa – ra doksal. Konsentrasi industri lebih bertitik berat pada kegiatan usaha penggemukan

(feedlot), baik skala besar dengan sapi bakalan impor, maupun ska la menengah dan kecil dengan sapi lokal. Jum – lah sapi jantan siap potong makin berkurang karena tekanan permintaan sehingga beralih ke betina yang lebih murah dan menguntungkan pejagal. Se – dangkan industri pembibitan dan pembiakan tidak eksis sama sekali karena bergantung pada usaha tani sampingan dengan skala kepemilikian di ba – wah 5 ekor per keluarga tani, serta tidak berorientasi ke

produksi dan pasar daging,” ulas Dayan panjang lebar. Padahal untuk memenuhi seluruh kebutuhan daging sapi nasional, lanjut dia, diperlukan betina produktif yang melimpah sebagai mesin produksi dan usaha budidaya pembiakan berdaya saing didukung struktur biaya yang efisien. Sayangnya, saat ini justru betina produktif terkuras dan minat usaha budidaya pembiakan turun karena lama 2,5- 3 tahun per siklus, mahal, dan berisiko. Prospek Masih Bagus Di atas kertas, kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan daging sapi yang masih jauh menciptakan peluang bisnis. Surachman Suwardi, Direk – tur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peter – nakan dan Kesehatan Hewan, Kementan,

berpendapat, kegiatan penggemukan sapi potong masih sangat menjanjikan karena kebutuhan daging sapi setiap tahun meningkat sebagai dampak mening – katnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Tahun ini, perkiraan kebutuhan daging sapi dan kerbau sebanyak 675 ribu ton dengan jumlah penduduk 258 juta jiwa dan tingkat konsumsi per kapita sebanyak 2,61 kg/ tahun. “Angka tersebut me – ningkat 3% dibandingkan 2015. Belum lagi, dari jum lah sapi yang dipotong di RPH sebanyak 2,717 juta ekor, 85%-nya dalam kondisi kurus artinya 2,3 juta sapi potensial untuk digemukkan. Apabila sa – pi tersebut digemukkan sampai rata-rata 500 kg/ekor. Bisa dibayangkan berapa besar tambah – an daging yang akan dihasilkan,” cetusnya. Dengan segala permasalahan yang sedang di – alami pelaku usaha saat ini, Sarjono

menyakini usa ha peternakan sapi masih “seksi” asalkan pemerintah mencipta – kan iklim usaha yang kondusif. Arti nya, impor sapi bakalan dan da – ging beku adalah pelengkap selama peternak lokal belum mampu swasembada. Jangan justru impor membunuh usaha peternakan lo – kal yang sudah dibangun peternak bertahun-tahun. “Untuk Kelompok Limosin saja, sekarang sudah me – ru pakan generasi kedua,” sebutnya saat ditemui AGRINA. Nanang Hari, penggemuk sapi dari Kediri, Jawa Timur, juga sepakat dengan Sarjono. “Prospek masih bagus, tinggal kebijakan pemerintah untuk membantu peternak sapi di dalam negeri. Jangan hanya

mengutamakan impor, seperti impor da – ging sapi India yang akan masuk membuat me – rana peternak sapi lokal. Impor daging jangan terlalu jor-joran, lebih baik dananya untuk mengimpor sapi indukan,” harapnya. Sedangkan Dayan berpendapat, prospek usaha sapi potong sangat tergantung kebijakan peme – rintah, apakah mau mendorong produksi dalam

Website : kota-bunga.net