Masih Banyak Orang Indonesia Masuk Suriah

Bergejolak sejak 2011, perang saudara di Suriah masih jauh dari selesai. Di tengah kecamuk konflik itu, mulai Oktober 2014, Djkoko Harjanto mendapat tugas Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Suriah.

Djoko medapat mandat meneruskan repatriasi alias pemulangan warga Indonesia yang terjebak di negara itu. Pria 59 tahun ini sampai harus menembus Aleppo, yang menjadi jantung pertempuran tentara pemerintah Bashar al-Assad dan oposisi. Indonesia juga menjadi satu-satunya negara yang masih membuka kantor cabang konsuler di kota yang sudah luluh-lantak itu. Total, 12.576 orang sudah kembali ke tanah air sejak Februari 2012.

Sepanjang proses tersebut, diplomat karier yang bertugas di Kementerian Luar Negeri sejak 1984 ini menemukan masalah baru, yakni makin banyak korban perdagangan manusia asal Indonesia yang dijadikan pekerja rumah tangga di Suriah. Sepanjang 2012, hanya satu di antara 4.000-an orang yang dipulangkan, yang merupakan korban trafcking.

Jumlahnya meningkat menjadi 26 pada tahun berikutnya. Sepanjang tahun lalu, ada 112 korban tindak pidana perdagangan orang di antara 235 orang yang dipulangkan dari Suriah. ”Yang resmi tidak ada, yang ilegal terus bertambah,” kata Djoko, yang sedang berada di Damaskus, kepada wartawan Tempo Mahardika Satria Hadi dan Reza Maulana melalui telepon WhatsApp, Rabu pekan lalu.

Dalam perbincangan selama lebih dari 40 menit itu, ayah tiga anak ini bercerita tentang pelbagai hal, dari bantuan kemanusiaan Indonesia yang diduga diterima kelompok bersenjata sampai keseharian para petugas kedutaan yang dilarang membawa serta keluarganya. ”Dengan selesainya pertempuran Aleppo, bukan berarti perang selesai,” ujar Djoko. Namun dia mencoret empat poin di daftar pertanyaan yang dikirimkan Tempo sehari sebelum wawancara, di antaranya tentang akar perang Suriah.