Otak-Atik Harga Daging Sapi

Otak-Atik Harga Daging Sapi

Lebaran dan Idul Adha menjadi mo – men yang ditunggu-tunggu peternak untuk memanen laba. “Men jelang lebaran, permintaan da ging sapi meningkat dua hingga tiga kali lipat dari konsumsi normal karena aspek tradisi dan budaya pangan kita. Sementara saat Idul Adha, permintaan sapi jantan untuk kurban menambah peningkatan permintaan di luar kebutuhan konsumsi daging normal karena aspek ibadah agama. Sehingga harga sapi kurban bisa tinggi karena tidak menggunakan parameter komersial seperti sapi potong biasa untuk kebutuhan produksi daging,” ungkap Dayan Antoni PA, Ketua Gabungan Perusahaan Pembiakan Sapi Potong Indonesia (GAPPSI). Namun Ramadan dan Lebaran 2016 bisa jadi bukan momen terbaik ba – gi peternak untuk me re – guk keuntungan. Pa sal – nya, persapian

nasional diguncang masalah harga yang menurut sebagi – an kalangan kelewat liar karena ber tengger di atas Rp100 ribu hingga Rp140 ribu/kg. Sampaisampai Presiden Jokowi me minta harga daging sapi, bagaimana pun cara nya, harus Rp80 ribu/kg untuk konsumen. Sebenarnya kasus semacam ini pernah terjadi pa da 2013. Waktu itu Menteri Perdagangan Gita Wiryawan menetapkan harga referensi daging sa pi Rp76 ribu/kg. Padahal harga wajarnya Rp90 ribuan/kg. Lalu pemerintah mengimpor daging sapi beku, tetapi gagal meredam harga karena konsumen kurang meminati. Kali ini pun pemerintah lagi-lagi mengandalkan daging beku impor. Berhasilkah? Sampai naskah ini diturunkan, 1 Juli 2016, harga daging sapi segar menurut

pantauan infopangan.go.id di Jakarta, ma – sih nangkring di angka Rp110 ribu-Rp120 ribu/kg. Yang turun malah harga sapi di kandang peternak. Menurut Sarjono, Ketua Kelompok Ternak Limo – sin di Desa Astomulyo, Kec. Punggur, Lampung Tengah, dari Rp45 ribu – Rp46 ribu/kg sebelum Ramadan menjadi Rp42.500 – Rp43.000/kg bobot hidup pertengahan Juni. Mengapa demikian dan berapa sebenarnya harga daging yang masuk akal? Harga yang Rasional H. Asnawi, Ketua Bidang

Ekspor/Impor DPP Aso siasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) pada acara bertajuk “Rasionalitas Harga Daging Sapi” di Jakarta (1/6) mengatakan, harga tinggi menjadi indikator kebutuhan daging nasional belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Sapi-sapi yang dipotong untuk menghadapi Ramadan dan Le baran berasal dari importasi sapi Januari dan Fe bruari 2016. Hitungannya, harga pokok produksi (HPP) sapi tersebut Rp44.100/kg timbang hi – dup. Setelah dipotong, harga jual dari jagal ke pe – ngecer pedagang Rp87 ribu – Rp88 ribu/kg karkas. “Jadi, HPP kita

menjual daging berkisar Rp109 ribu – Rp111 ribu per kg daging. Selanjutnya kita menjual daging tersebut antara Rp105 ribu – Rp120 ribu kg. Keuntungan kotor kita antara Rp3.000 – Rp5.000/kg, termasuk di dalamnya untuk membayar retribusi dan biaya karyawan. Keuntungan yang sangat kecil. Dengan demikian harga yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp80 ribu daging sangat tidak rasional,” jelasnya. Dengan kalkulasi yang lebih detil (lihat tabel), Dayan mendapatkan HPP daging sapi murni (prosot) dari bakalan impor hampir Rp104 ribu dan daging sapi asal lokal Rp110 ribu per kg. Angka ini tentu saja belum memasukkan laba! Mengapa mahal? “Masalah sapi potong dan da – ging tidak sederhana. Kompleks, dilematis dan pa – ra doksal. Konsentrasi industri lebih bertitik berat pada kegiatan usaha penggemukan

(feedlot), baik skala besar dengan sapi bakalan impor, maupun ska la menengah dan kecil dengan sapi lokal. Jum – lah sapi jantan siap potong makin berkurang karena tekanan permintaan sehingga beralih ke betina yang lebih murah dan menguntungkan pejagal. Se – dangkan industri pembibitan dan pembiakan tidak eksis sama sekali karena bergantung pada usaha tani sampingan dengan skala kepemilikian di ba – wah 5 ekor per keluarga tani, serta tidak berorientasi ke

produksi dan pasar daging,” ulas Dayan panjang lebar. Padahal untuk memenuhi seluruh kebutuhan daging sapi nasional, lanjut dia, diperlukan betina produktif yang melimpah sebagai mesin produksi dan usaha budidaya pembiakan berdaya saing didukung struktur biaya yang efisien. Sayangnya, saat ini justru betina produktif terkuras dan minat usaha budidaya pembiakan turun karena lama 2,5- 3 tahun per siklus, mahal, dan berisiko. Prospek Masih Bagus Di atas kertas, kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan daging sapi yang masih jauh menciptakan peluang bisnis. Surachman Suwardi, Direk – tur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peter – nakan dan Kesehatan Hewan, Kementan,

berpendapat, kegiatan penggemukan sapi potong masih sangat menjanjikan karena kebutuhan daging sapi setiap tahun meningkat sebagai dampak mening – katnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Tahun ini, perkiraan kebutuhan daging sapi dan kerbau sebanyak 675 ribu ton dengan jumlah penduduk 258 juta jiwa dan tingkat konsumsi per kapita sebanyak 2,61 kg/ tahun. “Angka tersebut me – ningkat 3% dibandingkan 2015. Belum lagi, dari jum lah sapi yang dipotong di RPH sebanyak 2,717 juta ekor, 85%-nya dalam kondisi kurus artinya 2,3 juta sapi potensial untuk digemukkan. Apabila sa – pi tersebut digemukkan sampai rata-rata 500 kg/ekor. Bisa dibayangkan berapa besar tambah – an daging yang akan dihasilkan,” cetusnya. Dengan segala permasalahan yang sedang di – alami pelaku usaha saat ini, Sarjono

menyakini usa ha peternakan sapi masih “seksi” asalkan pemerintah mencipta – kan iklim usaha yang kondusif. Arti nya, impor sapi bakalan dan da – ging beku adalah pelengkap selama peternak lokal belum mampu swasembada. Jangan justru impor membunuh usaha peternakan lo – kal yang sudah dibangun peternak bertahun-tahun. “Untuk Kelompok Limosin saja, sekarang sudah me – ru pakan generasi kedua,” sebutnya saat ditemui AGRINA. Nanang Hari, penggemuk sapi dari Kediri, Jawa Timur, juga sepakat dengan Sarjono. “Prospek masih bagus, tinggal kebijakan pemerintah untuk membantu peternak sapi di dalam negeri. Jangan hanya

mengutamakan impor, seperti impor da – ging sapi India yang akan masuk membuat me – rana peternak sapi lokal. Impor daging jangan terlalu jor-joran, lebih baik dananya untuk mengimpor sapi indukan,” harapnya. Sedangkan Dayan berpendapat, prospek usaha sapi potong sangat tergantung kebijakan peme – rintah, apakah mau mendorong produksi dalam

Website : kota-bunga.net