Blackvue DR650GW-2CH

Apabila kebanyakan produk in car camera dijual hanya satu unit, lain halnya dengan Blackvue. Dalam paket penjualannya disediakan dua unit kamera yang bisa digunakan untuk merekam. Diklaim, dua kamera itu untuk dipasang kaca depan dan belakang sehingga tidak hanya merekam kejadian atau peristiwa di depan tapi juga di belakang mobil. Dua kamera yang disediakan mempunyai kualitas rekam yang berbeda.

Satu kamera berukuran kecil hanya mampu merekam kualitas HD 1.280 x 720 piksel. Sementara kamera yang lebih besar mampu merekam full HD (1.920 x 1.080 piksel). Tidak hanya dari jumlah unit kamera, tetapi untuk melihat live view atau pandangan dari kamera harus melalui aplikasi yang sudah terpasang di smartphone Anda. Ya, produk ini tidak menyediakan layar seperti kamera perekam mobil pada umumnya. Melalui jaringan nirkabel, kamera dikoneksikan ke smartphone dengan aplikasi Blackvue App.

Mempunyai lebar sudut 129 derajat cukup untuk merekam dengan lebar mobil hingga SUV. Uniknya bila kamera kompetitor rata rata menggunakan bracket isap yang mempunyai durabilitas lebih baik, Blackvue justru menggunakan double tape. Ini membuat kaca bisa kotor karena terkena lem dari perekat bracket kamera dan tak sekuat model isap.

Waspadai Sarang Kuman di Rumah Anda

Berbagai masalah kesehatan keluarga bersumber dari kuman. Dan kenyataannya, tidak usah jauh-jauh dan melihat ke luar rumah, ada sangat banyak kuman yang berpotensi tinggal di rumah kita, tempat yang dalam sehari-hari sangat dekat dan selalu bersentuhan dengan semua anggota keluarga. Sayangnya, keberadaan kuman sulit dilihat secara kasat mata karena ukurannya yang sangat kecil. Dan yang mencengangkan, meski kecil, perkembangbiakan kuman sangat cepat dan penyebarannya pun sangatlah mudah.

Baca juga : Jual Genset Bali

Dari Mana Kuman Berasal? Banyak sekali cara yang bisa menjadi sarana sampainya kuman masuk ke dalam rumah. Air di genangan yang terbawa sepatu atau ban kendaraan, cipratan air hujan yang mengotori rumah, jejak kotor dari hewan pengerat, atau kotoran lain yang terbawa oleh kecoa atau lalat. Selain yang datang dari luar rumah, kuman juga bisa muncul dari dalam rumah. Bahkan datangnya dari tempat yang tidak kita sadari, yang seringkali kita anggap bersih, misalnya ruang tidur.

Pentingnya Perilaku Bersih Jika ingin terbebas dari kuman, maka perilaku bersih dan sehat harus diterapkan di rumah. “Perilaku seperti ini merupakan tindakan preventif dalam rumah tangga agar keluarga terhindar dari penyebaran penyakit yang merugikan,” dr. Dien Ernawati, Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, menjelaskan dalam acara “Aksi Anti Kuman” yang digelar bersama PT Unilever Indonesia, produsen Wipol, salah satu merek desinfektan.

Walau terlihat bersih, rumah belum tentu higienis (bebas kuman). Selain kondisi yang tak higienis ini, kuman sangat mudah berpindah karena perilaku kita yang tinggal di dalam rumah. Karenanya, kegiatan bersih-bersih wajib dilakukan secara rutin untuk mencegah dan membunuh serta menghentikan perkembangbiakan kuman. Inilah tempat-tempat di dalam rumah yang wajib mendapat perhatian karena berpotensi menjadi sarang kuman.

Ruang Tidur

Ruang tidur adalah tempat yang setiap hari kita kunjungi. Sangat mudah menjadi tersebarnya kuman, ketika kita tak membiasakan diri untuk masuk dan tidur dalam keadaan badan yang bersih setelah aktivitas di luar. Bersihkan secara berkala bagian-bagian ini. Ganti seprai dan sarung bantal minimal seminggu sekali. Usahakan ruang tidak lembap dengan memasukkan sinar matahari baik melalui jendela atau skylight. Pastikan badan, pakaian, serta barang yang masuk ke kamar dalam keadaan bersih.

Menambah Ventilasi pada Dinding

Cara lain yang bisa dilakukan untuk menurunkan suhu dalam ruangan adalah menambah ventilasi pada beberapa ruangan. Misalnya di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan. Caranya adalah memodifkasi jendela dengan menambah ventilasi berupa kisi-kisi. Kehadiran kisi-kisi tambahan pada jendela akan memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan. Meskipun tidak ada udara yang bergerak (angin), udara panas dari dalam ruangan akan bergerak secara alami ke luar ruangan, yang suhunya lebih rendah.

Agar pertukaran udara (angin) di dalam ruangan bisa dirasakan oleh tubuh, maka penempatan kisi-kisi tambahan tersebut harus disesuaikan dengan aktivitas penghuni di dalam ruangan. Di ruang keluarga misalnya, tinggi kisi-kisi tambahan dipasang sejajar dengan bagian wajah orang saat sedang duduk di sofa. Dengan demikian, udara yang mengalir bisa dirasakan oleh bagian tubuh, terutama di bagian wajah.

Cerobong Angin Menangkap Angin, Menghalau Panas

Dengan memasang ventilasi udara yang diletakkan pada penutup atap, maka angin akan masuk ke dalam rumah, sedangkan udara panas tertarik ke luar. hal ini menjadikan udara senantiasa bersirkulasi. Konsep penggunaan cerobong angin yang dalam dunia arsitektur disebut wind catcher menurut Ren Katili, arsitek dari Arsitektropis, merupakan penerapan dasar prinsip dasar ilmu fisika.

Baca juga : Jual Genset Jakarta

Dalam hukum Bernoulli disebutkan bahwa udara akan bergerak dari tempat yang bertekanan udara tinggi ke daerah yang bertekanan udara rendah. Dengan memasang ventilasi pada bagian atap rumah, maka udara panas dari dalam rumah (bertekanan tinggi) akan tertarik keluar, sedangkan angin yang berhembus di sekitar wind catcher akan masuk melalui kisi-kisi dan cerobong angin.

Pergerakan udara panas dari dalam rumah ke luar bangunan akan semakin lancar, jika angin di sekitar wind catcher berhembus kencang. Bagi rumah yang belum mempunyai wind catcher, pemasangannya dapat dilakukan dengan sedikit renovasi pada bagian atap dan plafon. Beberapa bagian atap (genting) dibuka, lalu di atasnya diberi tiang baru untuk memasang kisi-kisi. Untuk menghindari tampias hujan, maka di atas kisi-kisi kembali diberi pelindung atap.

Ini syaratnya

Karena mempunayi fungsi untuk mengalirkan angin masuk menuju ke dalam rumah serta mengalirkan udara panas yang berasal dari dalam rumah, sehingga pemasangan wind catcher tidak dapat dilakukan secara asal-asalan. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, sebagaimana disampaikan Ren Katili. Menghadap arah datangnya angin. Agar angin bisa masuk, maka posisi wind catcher harus diletakkan menghadap arah datangnya angin. Sayang, di Indonesia umumnya rumah tidak terbiasa menggunakan menara angin atau win catcher.

Di atas void.

Agar sirkulasi udara menjadi lebih lancar, wind catcher seharusnya dipasang pada bagian atas ruangan yang terdapat rongga dari lantai dasar ke lantai di atasnya, seperti void atau di atas tangga. Hal tersebut untuk membantu memperlancar pergerakan udara yang berasal dari dalam rumah menuju ke arah atap hingga wind catcher.

Membuka plafon.

Agar udara dapat mengalir dari dalam menuju ke luar bangunan dan sebaliknya, urdara dari luar bangunan masuk menuju ke dalam rumah, maka beberapa bagian yang ada di plafon harus dibuka, sehingga terbentuk semacam rongga (cerobong) dari lantai bawah hingga atap. diberi Pengaman Untuk mencegah burung atau kelelawar masuk dan bersarang di dalam area plafon, maka lubang ventilasi perlu diberi kawat kasa (anyaman). Memang butuh sedikit renovasi untuk memasang ini wind catcher. Tapi kalau bisa membuat rumah lebih sejuk, kenapa tidak?