Solusi Terintegrasi ala Samsung

Smartphone, tablet, TV dan home appliances dengan merek Samsung sering kali kita jumpai. Bahkan bisa dibilang merek Samsung sudah menjadi salah satu ikon yang mudah diingat untuk produk dalam kate gori tersebut. – Namun ternyata sebenarnya Samsung tak hanya menyasar konsumen untuk kalangan rumahan atau end user. Enterprise atau kalangan pelaku usaha dan bisnis pun menjadi target Samsung. Inilah yang tergambar dalam diskusi panel bertajuk “The Right Time for Mobility” yang diadakan di Hotel Shangrilla, Jakarta (4/11).

Baca juga : harga iphone

Dalam pembukaan KangHyun Lee, Vice President, PT Samsung Electronics Indonesia, menegaskan bahwa Samsung terus berinovasi guna memberi solusi yang optimal bagi mitra nya, dalam hal ini para pelaku usaha atau pebisnis di Indonesia. Samsung Enterprise Mobility merupakan komitmen nyata yang dikembangkan oleh Samsung secara berkelanjutan untuk terus melayani klien dengan solusi bisnis yang sesuai.

“Kami telah berusaha memberikan solusi terbaik untuk mobile yang saling terintegrasi untuk perusahaan dari beberapa jenis industri yang ada. Solusi ini kami kembangkan guna menjawab beragam kebutuhan sejumlah klien atau mitra untuk memperlancar roda bisnis mereka secara mobile dengan menggunakan perangkat serta solusi yang dimiliki oleh Samsung. Tak sekadar terintegrasi, kami juga memikirkan soal keamanannya,” ujarnya.

Selain menyinggung solusi mobility yang dibangun oleh Samsung untuk lingkungan perusahaan, diskusi panel ini juga menyingung Rencana Pitalebar Indonesia (RPI) 2014 – 2019. Dipaparkan secara langsung oleh Mira Tayyiba, Kepala Sub Direktorat Energi, Telekomunikasi dan Informatika – Kementerian PPN/BAPPENAS bahwa RPI 2014 – 2019 telah tertuang ke dalam Peraturan Presiden No. 96 tahun 2014.

Dari peraturan tersebut terlihat bahwa arahan pemerintah tentang pemanfaatan broadband sudah jelas, salah satunya adalah “Broadband untuk Rakyat”. “Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di masa sekarang ini telah berkembang dengan sangat dinamis. Kedepannya, TIK akan menjadi penggerak roda ekonomi dan pembangunan bangsa ini. Tak hanya itu, industri kreatif yang bersinggungan erat dengan hal ini juga tak bisa lepas dari kemajuan TIK,” ujar Mira. Sayangnya, beberapa pemanfaatan TIK, seperti pengunaan internet yang dihadapi oleh bangsa ini belumlah maksimal.

Mira juga menambahkan bahwa hal ini tak terlepas dari masalah infrastruktur yang tak kunjung selesai. Masalah lainnya, harga broadband yang masih mahal. “untuk lima tahun ke depan, pembangunan pitalebar nasional akan direncanakan bisa untuk memberikan akses tetap ke wilayah perkotaan ke 71% rumah tangga (20 Mbps) dan 30% populasi, serta akses bergerak ke seluruh populasi (1 Mbps). Adapun di wilayah perdesaan, prasarana pitalebar akses tetap diharapkan dapat menjangkau 49% rumah tangga (10 Mbps) dan 6% populasi, serta akses bergerak ke 52% populasi (1 Mbps),” tambah Mira.